Singing Hatsune Miku

Education


TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
DI PAUD DAN DIKDASMEN

Melihat perkembangan manusia di abad 21 yang memiliki ciri berpikir kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikasi , siswa sebaiknya belajar secara  4L, yaitu Learning to know, Learning to do, Learning to live together, dan Learning to be. Maka disinilah peran penting dari TIK (Teknik Informasi dan Komunikasi) sebagai media yang dapat memudahkan siswa untuk menangkap informasi dalam pengetahuan.
Teknologi informasi memiliki arti teknologi yang mendukung kegiatan-kegiatan yang mencakup informasi, namun dalam perkembangannya teknologi informasi juga melibatkan kolaborasi dan komunikasi, oleh karena itu teknologi informasi (TI) berkembang menjadi teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Prinsip TIK adalah berkontribusi dalam segala variasi kegiatan, pada pendidikan TIK yang digunakan adalah yang berkaitan dengan pengalaman, pengetahuan dan produk yang bermanfaat bagi peserta didik.
Manfaat konsep TIK yaitu :
1. Untuk tugas tertentu, contoh : penerbitan, pengiriman inforamasi dan pemrosesan transaksi
2. Untuk alat kerja yang berkaitan dengan informasi dan komunikasi
3. Sebagai alat pengaturan terpadu yang memungkinkan nantinya informasi dapat disebarkan kepada berbagai pihak
4. TIK sebagai elemen kunci yang mendasari sebuah kerangka kerja
5. TIK mendukung kreativitas dan produktivitas
Satuan pendidikan memiliki tanggungjawab dalam pengembangan dan penerapan TIK, untuk itu perlu adanya program peningkatan profesional guru yang berkaitan dengan pengembangan TIK dalam kaitannya dengan kurikulum yang berlaku. Kurikulum di desain untuk terlaksananya TIK di satuan pendidikan mulai PAUD – SD – SMP – SMA.
Berikut ini beberapa impelementasi TIK dalam pendidikan, yaitu :
  1. Mengkompilasi bahan ajar/pembelajaran berbasis TIK yang tersedia berupa teks, gambar foto animasi video film dll
  2. Menyusun suplemen dengan menghubungkan (link) bahan ajar berbasis TIK (sebagai pengayaan) pada pembelajaran mulai dari PAUD sampai kelas XII
  3. Memperkaya silabus dan model pembelajaran kurikulum 2013 berbasis TIK (ICT for learning) dan bahan-bahan pembelajaran TIK (learning ICT)
  4. Mengembangkan diversifikasi kurikulum terintegrasi pada mata pelajaran yang sudah diterapkan dalam struktur kurikulum
  5. sebagai mata pelajaran pilihan/peminatan di SMA/MA/SMLB dan SMK/SMKLB
  6. sebagai program ekstrakurikuler di pendidikan dasar dan menengah


Pergeseran Paradigma Pendidikan

       Pendidikan merupakan penguasaan ilmu pengetahuan "fungsional" berdasarkan kerangka berpikir ilmiah. Perubahan paradigma pendidikan ditandai dengan perubahan standar kelulusan, kurikulum, metode pembelajaran dari TCL ke SCL dan strategi pembelajaran. Selain itu, lulusan lembaga pendidikan harus dapat menjawab kebutuhan masyarakat, dunia kerja, profesional, dan generasi masa depan. Perubahan paradigma pendidikan juga ditandai dengan perubahan kurikulum yang awalnya adalah kurnas 1994, KBK, KTSP dan Kurikulum 2013. Pergeseran tersebut bertujuan agar peserta didik memiliki kompetensi. Pengertian kompetensi adalah sepereangkta tindakan cerdas dan bertanggungjawab yang harus dimiliki oleh seseorang dalam melaksanakan tugas pada bidang pekerjaan tertentu.
       Adanya pergeseran pendekatan dalam pembalajaran TCL ke SCL memberikan dampak yang signifikan bagi dunia pendidikan. Pendekatan pembelajaran SCL memiliki ciri-ciri yaitu guru dan dosen secara aktif membangun penetahuan, guru/dosen berperan sebagai fasilitator, belajar bukan hanya penguasaan materi tapi diarahkan pada pengembangan karakter agar menjadi pembelajar sepanjang hayat, pembelajaran dilakukan terintegrasi, belajar merupakan proses pengembangan pengetahuan, proses belajar secara kooperatif dan kolaboratif, belajar dapat dilakukan dimapaun dan kapanpun, belajar diarahkan pada pencapaian kompetensi, belajar diarahkan pada pembelajaran berbasis aneka sumber belajar, proses pembelajaran menggunakan penggunaan interdisiplin, dan proses pembelajaran difasilitasi menggunakan multimedia/TIK.
      Pergeseran ini juga berpengaruh pada peran guru/dosen diantaranya yaitu guru bertugas merumuskan tujuan/kompetensi pembelajaran, menyediakan dan memberikan pengalaman belajar sesuai dengan tuntutan kompetensi, menciptakan pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan, mengecek perkembangan pembelajaran peserta didik secara pribadi, mendorong peserta berpikir kritis, kreatif dan kemampuan memecahkan masalah dan menjelaskan tentang norma, aturan, standar, sistem nilai dan etika yang berkaitan dengan mata pelajaran/kuliah. Dan bagi instasi, pergeseran ini juga memberikan implikasi diantaranya yaitu misi institusi diletakkan pada belajar peserta didik institusi harus bertanggungjawab terhadap proses belajar, meningkatkan mutu belajar peserta didik, dan efektivitas institusi dievaluasi berdasarkan capaian belajar peserta didik Strategi pembelajarannya pun harus lebih menyenangkan, bermakna, memeberdayakan aneka sumber dan berorientasi pada Teknologi Informasi (TI).
       Proses belajar mengajar haruslah terasa lebih menyenangkan agar peserta didik tidak menganggap belajar hal yang menakutkan, belajar merupakan bagian dari bersenang-senang, menciptakan pengalaman dan impian yang baru, menciptakan perubahan yang terus menerus, dan menjanjikan masa depan yang lebih baik. Proses belajar mengajar harus pula dapat menggunakan aneka sumber belajar dari apapun dan dimanapun agar dapat memanfaatkan lingkungan, menggunakan TI, menggunakan multimedia dan pemberdayaan narasumber agar pembelajaran lebih bermakna.
         Proses belajar yang berorientasi pada IT, berarti pembelajaran tersebut menggunakan IT sebagai alat pertukaran informasi dan menjadikan masa depan lebih baik lagi. proses pembelajaran tidaklah harus dilakukan di dalam kelas namun boleh dilaksanakan dimana saja. Hal tersebut bertujuan agar peserta didik mampu bersentuhan langsung dengan objek pengetahuan yang ingin diketahuinya.
         Dengan demikian, jika dilihat lebih teliti ada 4 prinsip dari pergeseran paradigma pendidikan yaitu antara lain :
  1. Keberhasilan institusi dinilai berdasarkan mutu belaajr peserta didik
  2. Belajar menjadi tanggungjawab bersama
  3. Institusi harus menjadi pembelajar, sehingga dari waktu ke waktu yang dihasilkan adalah belajar
  4. Lingkungan belajar harus diciptakan agar terjadi proses penemuan dan pembangunan pengetahuan daripada sekedar transfer ilmu pengetahuan



Penggunaan Media Pembelajaran Untuk Siswa

      Menurut AECT, media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menjelaskan dan menyalurkan pesan atau informasi. 
Mengapa guru harus menggunakan media???
      Siswa lebih cenderung lebih mengingat pembelajaran jika proses pembelajarannya menggunakan media, persentase siswa dapat mengingat dalam 3 hari adalah 65%, berbeda dengan proses pembelajaran yang hanya visual siswa akan mampu mengingat dalam 3 hari adalah 20% bahkan jika hanya menggunakan verbal siswa hanya mampu mengingat 10%.
     Media pembelajaran dibagi menjadi beberapa klasifikasi diantaranya gambar, foto, multimedia, benda real, fenomena, narasumber, lingkungan, tayangan slide, dll. Karena untuk siswa jenjang SD, siswa lebih cenderung dari konkret ke abstrak, oleh sebab itu guru sebaiknya menggunakan media pembelajaran.
     Jika dilihat dari krakteristik siswa SD, tujuan pendidikan adalah menumbuh kembangkan potensi yang dimiliki siswa sesuai dengan usia dan perkembangan struktur kognitif yang telah dimiliki. Proses pembelajaran hendaklah memenuhi beberapa point pendekatan, diantaranya yaitu berorientasi pada multiple intelegences, menggunakan praktek pengajaran yang sesuai dengan usia perkembangan anak, menggunakan materi yang sesuai, menggunakan media yang kongkrit dan faktual, dengan demikian proses pembelajaran akan terasa menyenangkan dan bermakna.
         Karakteristik multimedia pembelajaran adalah  :
  1. Mempermudah penerimaan pesan
  2. Mengefektifkan pencapaian tujuan
  3. Mempersingkat waktu pembelajaran
  4. Memberi kesenangan dalam belajar
       Prinsip pengembangan multimedia pembelajaran
  • ketercapaian tujuan pembelajaran
  • kesesuaian dengan karakteristik sasaran
  • ketepatan dengan jenis materi pelajaran
  • kesesuaian dengan latar (setting)
  • Memberi "kesenangan" dalam belajar
     Setiap jenis media memiliki prosedur dan teknik yang spesifik dalam memanfaatkannya. Setiap media memiliki keunikan tersendiri. Oleh karena itu, seorang guru hendaklah mengupayakan kreatifitasnya untuk mengintegrasikan media yang sesuai dalam pembelajaran dengan menggunakan cara-cara yang menyenangkan.


Pendidikan berbasis TIK

     Pendidikan berbasis TIK merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai medium penyampai oesan dalam belajar. Pendidikan berbasis TIK memiliki beberapa pendekatan antara lain dimulai dari masuknya media dalam pembelajaran, kemudian berkembangnya teknologi AVA, masuknya teknologi komputer yang memicu beragam pendidikan berbasis TIK lainnya.
Berikut ini ragam pendidikan berbasis TIK :
  • Distance Education
  • Dual Mode Education
  • Virtual Education
  • Virtual University
  • Virtual School
Dengan adanya Pendidiakn berbasis TIK juga memicu lahirnya berbagai model pembelajaran yaitu :
  • E'Learning
  • On line learning
  • Blended learning
  • Mobile learning



Mengapa harus pendidikan berbasis TIK? Karena kemajuan zaman yang semakin canggih dan mobilitas setiap masyarakat yang tak terduga sehingga menjadikan kita harus siap dan mampu menerapkan pendidikan berbasis TIK untuk mengantisipasi perkembangan zaman abad 21. Namun dengan sekian kelebihannya bukan berarti pendidikan berbasis TIK tidak memiliki kendala/kelemahan. Salah satu kendalanya adalah kontrol ada ditangan pengguna, tidak ada sentuhan kemanusiaan, SDM disain instruksional yang terbatas. untuk itulah guru harus pintar-pintar dalam mengolah kegiatan belajar mengajar yang menerapkan TIK tanpa memberikan dampak yang negati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar